Jumat, 07 November 2008

Protein fluoresen hijau menangkan Hadiah Nobel

Hadiah Nobel 2008 di bidang Kimia telah dianugerahkan kepada tiga ilmuwan yaitu ilmuwan Jepang Osamu Shimomura dan peneliti Amerika Serikat Martin Chalfie dan Roger Tsien, karena penemuan dan pengembangan protein fluoresen hijau (GFP).

Protein ini, yang pertama kali diisolasi dari seekor ubur-ubur, sekarang ini sudah rutin digunakan sebagai penanda yang menyala terang untuk menelusuri posisi-posisi dan interaksi-interaksi protein-protein dalam sel.

Profesor Lars Thelander dari Royal Swedish Academy of Sciences, setelah pengumuman penganugerahan tersebut, mengatakan GFP merupakan sebuah alat yang sangat baik yang memungkinkan kita untuk meneliti metabolisme dan reaksi-reaksi di dalam sel-sel hidup tanpa merusaknya. Sekarang ini sudah sangat mudah menandai protein dengan penanda fluoresen, Thelander menambahkan, dengan catatan bahwa GFP telah membantu dalam memberikan pengetahuan-pengetahuan baru tentang proses-proses seluler yang terkait dengan penyakit seperti kanker, HIV dan penyakit Alzheimer.

Tonggak kimiawi

Osamu Shimomura adalah orang pertama yang mengidentifikasi dan mengisolasi GFP, yang bertanggungjawab untuk bioluminesensi karakteristik dari ubur-ubur Aequorea victoria. Shimomura, yang dulunya di Universitas Princeton, dan sekarang bermarkas di Laboratorium Biologi Kelautan di Woods Hole, Massachusetts, mengambil ekstrak dari lebih 1.000 ubur-ubur selama musim panas tahun 1961 untuk mencari sebuah protein yang menyala hijau terang dibawah sinar UV.

Penelitian Shimomura yang sangat cermat tentang sifat-sifat kimia protein yang berfluoresensi ini menjadi cikal bakal untuk tahapan selanjutnya. Pada awal tahun 1990an, Martin Chalfie, sekarang di Universitas Columbia di New York, menemukan gen ubur-ubur yang bertanggungjawab untuk menghasilkan GFP dan memadukannya ke dalam kode genetik bakteri E. coli. Chalfie cukup terkejut menemukan sel-sel ini menyala terang, walaupun tidak ada enzim atau zat kimia ubur-ubur yang dianggap diperlukan untuk fluoresensi tersebut.

Walaupun banyak organisme yang bisa berfluoresensi terang, seperti kunang-kunang dan ikan tropis, namun proses-proses kimianya biasanya melibatkan komponen-komponen lain yang diperlukan selama luminesensi. Chalfie menemukan bahwa GFP cukup berbeda – hanya memerlukan oksigen untuk menjalankan proses konversi sinar ultraviolet menjadi sinar hijau terang yang tampak. Dengan melanjutkan penyelidikannya terhadap cacing gelang C. elegans yang memiliki panjang mencapai milimeter, Chalfie menemukan bahwa label-label GPF berpotensi untuk ditempelkan pada tipe sel hidup manapun dengan menyisipkan gen tersebut di lokasi tertentu dalam DNA.

Penghargaan besar

Akan tetapi, masih ada masalah penggunaan GFP secara praktis karena protein ini cenderung kehilangan kemampuannya untuk berfluoresensi dari waktu ke waktu dan warna hijau bukan merupakan warna yang ideal untuk penelitian-penelitian cermat. Roger Tsien, sekarang di Universitas California, San Diego, membuat berbagai mutasi dalam gen, dan menghasilkan varian-varian GFP baru yang berfluoresensi lebih kuat dan berwarna berbeda, mulai dari biru sampai merah dan kuning.

Jeremy Sanders, yang menjadi pembimbing Tsien selama studi untuk gelar PhD di Universitas Cambridge, mengatakan bahwa inilah saatnya untuk mengakui GFP. "Penelitian Roger, bahkan sebelum ditemukannya GFP, telah membuka dunia serba-baru untuk mengamati sel-sel hidup dari jarak yang lebih dekat," ungkap Sanders ke Chemistry World. "Sekarang anda dapat membeli senyawa-senyawa ini di pasaran dan senyawa-senyawa ini telah mentransformasi bidang biologi molekuler."

Berkat penelitian Tsien, banyak sel-sel berbeda yang bisa ditelusuri secara real-time – sehingga memungkinkan sel-sel ini untuk diteliti saat mereka berinteraksi, memetabolisasi zat kimia atau saat membelah. Bermula dari ditemukannya sebagai protein ubur-ubur yang tidak berharga, GFP sekarang ini telah merubah cara kita memandang dunia kehidupan sel yang dinamis.

Pemenang Hadiah Nobel 2006. Roger Tsien, Osamu Shimomura and Martin Chalfie

Setelah terbangun dari tidurnya pada jam 3 subuh untuk mendengar pengumuman penghargaan tersebut, Tsien berbicara lewat telepon dalam jumpa pers di Swedia. "Saya merasa sangat terhormat dan senang karena penelitian ini dapat diakui," tuturnya, dengan menambahkan bahwa dia cukup terkejut telah dipilih untuk memenangkan hadiah nobel. "Ini merupakan karya dari banyak orang, tetapi kami bertigalah yang harus menjadi tokoh utama di balik semua ini."

Masing-masing dari tiga peneliti ini akan mendapatkan total hadiah sebesar 10 juta Kroner Swedia (800.000 poundsterling atau sekitar Rp.15 milyar).

(dikutip dari Soetrisno, http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=211)

Tips Cara Jitu Mempertahankan Daya Ingat

Mungkin banyak diantara kita yang tidak menyadari adanya gangguan pada daya ingat kita hingga saat kita menyadarinya, biasanya keadaan itu sudah berkembang dengan tingkat yang lumayan berat.

Namun tak perlu khawatir, para ahli setuju banyak diantara kita dapat memelihara daya ingat saat usia bertambah dan lebih mudah ketika Anda menerapkan teori dalam praktek, itu lebih baik. Sehingga berhentilah mengkuatirkan sesuatu dan cobalah beberapa tips berikut ini untuk mendapatkan daya ingat lebih baik.

1. Olah raga.

Kegiatan fisik membuat jantung memompa dan otot bergerak-bahkan hanya dengan jalan kaki sehari-hari akan meningkatkan supply darah dan nutrisi ke otak.

2. Tidur yang cukup.

Keletihan akan menggangu informasi yang telah kita simpan, begitu juga kemampuan Anda untuk mempelajari sesuatu yang baru. Tetapi tidur yang cukup di malam hari akan membantu daya ingat Anda berfungsi.

3. Hati-hati dengan suplemen.

Banyak klaim dibuat tentang kehebatan vitamin C, E suplemen herbal ginkgo biloba untuk meningkatkan daya ingat, tetapi para ilmuwan tidak dengan suara bulat mengakui khasiat suplemen tersebut. Alih-alih, dapatkan vitamin yang Anda perlukan melalui cara makan yang sehat dan konsultasi ke ahli diet atau dokter sebelum mencoba suplemen tersebut.

4. Mengontrol stress.

Stres membuat Anda berpikir tidak jelas dan dapat menggangu daya ingat yang baik. Sementara sumber stress mungkin diluar kontrol Anda, Anda dapat mengajari tubuh untuk merespon situasi secara berbeda dengan latihan yoga atau therafi relaksasi.

5. Mengobati depresi.

Jika Anda memiliki masalah daya ingat dengan insomnia dan merasa gelisah dan putus asa, Anda mungkin menderita depresi. Ketika situasi ini diobati dengan efektif, daya ingat Anda seharusnya membaik.

6. Mengawasi pengobatan.

Beberapa antidepressant, antihistamin dan obat-obat darah tinggi dapat melemahkan daya ingat. Jika Anda menemukan masalah ini, berbicaralah ke dokter Anda. Jangan pernah berhenti menerima resep obat tanpa nasehat medis.

7. Lakukan berulang.

Katakan sesuatu dengan keras dan ulangi beberapa kali akan membantu untuk mengingat.

8. Permainan.

Untuk merangsang daya ingat cobalah untuk mencoba permainan seperti catur atau scrabble.

9. Terus belajar.

Belajar bahasa baru, mengikuti kursus dan menghadiri perkuliahan adalah salah satu cara untuk mengasah daya ingat.

10. Belajar dengan angka.

Mengingat nomor telepon, nomor kartu kredit atau passward adalah cara untuk tetap menumbuhkan daya ingat Anda.

11. Belajar konsentrasi.

Duduk di dapur dan buatlah daftar dalam pikiran Anda tentang segala sesuatu yang ad di tempat tidur. Tujuan dari latihan ini untuk membangun perhatian dan konsentrasi dengan memfokuskan pada sekitarnya. Selamat mencoba!

(dikutip dari: http://yuxie.wordpress.com/2008/09/02/)

Yoga Efektif Hilangkan Stress

Waspadai Gaya Hidup Anda

Gaya hidup modern, kebiasaan, dan tekanan hidup sering menjadikan kita lupa akan pentingnya kesehatan. Padahal kesehatan adalah salah satu asset utama kita menjalani hidup ini.

Sekali kesehatan Anda terganggu, tidak hanya ribuan tapi sampai jutaan rupiah Anda keluarkan untuk bisa memulihkannya. Kebiasaan bergantung pada obat-obatan kimiawi dan peralatan modern untuk memelihara kesehatan tidak selalu baik selain adanya efek residu juga mahalnya biaya yang harus Anda tanggung.

Alam dan kebiasaan yang baik dan sehat adalah solusi murah dan mudah untuk menjaga kesehatan Anda

Yoga Untuk Therapi Kesehatan Tubuh, Jiwa dan Pikiran

Latihan yoga, yang telah diwariskan ribuan tahun yang lalu, telah melalui berbagai penyelidikan ilmiah dan dikembangkan secara ilmiah pula terbukti sangat ampuh sebagai terapi yang mengagumkan. Banyak penyakit yang dapat disembuhkan, dimana ilmu pengobatan barat gagal mengatasinya. Yoga yang efektif membuahkan hasil yang baik.

Berbagai macam keluhan penyakit bisa Anda atasi sendiri dengan latihan yoga yang rutin. Tanpa harus keluar biaya yang sangat besar. Karena sekali lagi, alam dan kebiasaan yang baik akan sangat bermanfaat bagi pemeliharaan kesehatan Anda.

Tips Untuk Latihan Yoga

- Waktu terbaik dalam latihan yoga adalah fajar atau larut malam.

- Selalu melakukan latihan dalam keadaan perut kosong. Puasa makan 3-4 jam sebelum latihan.

- Idealnya yoga dilakukan di tempat yang bersih dengan sirkulasi udara yang baik.

- Bebas dari segala suasana berisik dan gangguan.

- Pakaian nyaman dan santai akan membantu kulit bernapas, dan tidak mengganggu gerakan.

- Bertelanjang kaki.

- Minum putih yang cukup, minimal 1-2 gelas sehari selama latihan.

- Jadikan ini kebiasaan.

Yoga Efektif Hilangkan Stress

Manfaat yoga dalam kesehatan fisik dan psikis diakui betul oleh Anang Soesilo (50). Presiden Komisaris dari sebuah perusahaan swasta ini mengaku sudah berlatih yoga selama enam tahun. Awalnya, Anang mendapat rekomendasi dari seorang teman yang mengetahui berbagai keluhan kesehatannya. “Dulu saya sering menderita insomnia, sakit punggung dan juga jantung berdebar. Kala diperiksa ke dokter, tak terdeteksi apa-apa. Akhirnya, saya ikut yoga atas rekomendasi seorang teman,” tuturnya.

Waktu itu, ia mengikuti kursus yoga intensif selama enam hari di sebuah studio. Sayangnya, sesudah kursus selesai, ia pun merasa malas untuk menekuni yoga sendiri. Tak lama, ia mendengar tentang kursus yoga di JNICC. Kini, sudah lima tahun ia berlatih di situ, bersama beberapa rekan yang juga sudah bertahun-tahun berlatih di tempat itu.

“Sekarang, kalau tiba-tiba terbangun di malam hari dan tidak bisa tidur, saya tinggal berlatih yoga dan meditasi pernafasan. Lama kelamaan rasa kantuk akan datang dan saya pasti tertidur. Esok harinya tubuh pun segar karena tidak kekurangan tidur. Stress, jantung berdebar dan sakit punggung juga sudah jarang kambuh lagi,” ungkapnya.

Kebiasaannya berlatih yoga kini ditularkannya kepada sang istri serta teman-temannya. Bahkan, ia bercerita, seorang temannya yang menderita stres berat langsung sembuh setelah berlatih yoga selama beberapa saat.

“Daripada ke dokter terus dan ketergantungan, lebih baik latihan yoga. Bagi saya, yoga itu adalah tindakan preventif atau pencegahan. Kalau sering latihan yoga, tubuh jadi lebih sehat. Nah, kalau tidak sakit, kan tidak usah ke dokter,” tambahnya.

(dikutip dari: http://yuxie.wordpress.com/2008/09/02/)

Minggu, 02 November 2008

Lima cara sederhana mengembangkan kemampuan verbal anak autis

"Yo, kamu kan terapis anak autis. Aku pengen nanya nih. Tomas, cucu pertamaku belum bisa ngomong tuh sampai sekarang. Padahal umurnya sudah hampir tiga tahun. Aku jadi kuatir apa iya Tomas itu autis?"Tanya salah satu senior guru sekolah minggu di gereja."

Terlepas dari apakah seorang anak itu autis atau bukan seperti ilustrasi diatas, kasus terlambat bicara merupakan kasus yang dialami oleh anak bermasalah, seperti anak autis. Dalam sebuah seminar mengenai Penanganan Anak Bermasalah Khususnya dalam Segi Emosi dan Autism, Julianti Gunawan, menuliskan,"Ciri-ciri gejala autisme nampak dari gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, perilaku, emosi, dan sensoris�. Selanjutnya, terapis anak autis yang juga bekerja di Biro Konsultasi Psikologi sebuah yayasan pendidikan di Jakarta, merincikan,"gangguan komunikasi pada anak autis ditandai dengan tidak adanya kontak mata, terlambat berbicara atau sama sekali belum dapat bicara, sulit untuk memulai percakapan dengan orang lain, mengulang kata-kata atau membeo, berbicara dalam bahasa yang tidak dapat dimengerti atau bahasa planet, serta tidak memahami pembicaraan orang lain" Jadi, salah satu ciri gangguan komunikasi yang muncul pada anak autis adalah terlambat bicara atau sama sekali belum dapat bicara.

Terlambat bicara berhubungan dengan kemampuan anak menyampaikan kebutuhannya dengan suatu cara yang dapat dimengerti dengan benar atau perilaku komunikatif. Dalam sebuah makalah seminar bahasa juga dituliskan, perkembangan perilaku komunikatif dibagi dalam tiga kelompok; Pertama, Tahap Perlokusioner, dimana pesan diterima oleh pendengar tanpa ada usaha dari anak sehingga tidak terjadi komunikasi antara kedua belah pihak. Umumnya muncul sebelum umur 10 bulan. Kedua, Tahap Ilokusioner, ditandai dengan munculnya perilaku bahasa non verbal yang dapat dimengerti oleh pendengar, misalnya anak hanya menunjuk pada benda yang diinginkan. Ketiga, Perilaku Lokusioner, adalah fungsi bahasa yang dijadikan kedalam bentuk bahasa verbal. Sehingga pada tahap Perilaku Lokusioner sudah mulai timbul usaha dari anak untuk menyampaikan kebutuhannnya dalam bentuk bahasa verbal.
Kemampuan anak memasuki tahap Perilaku Lokusioner, merupakan langkah awal untuk mengembangkan kemampuan verbal atau mengembangkan kemampuan anak berbicara anak. Dibawah ini ada lima cara sederhana yang dapat dilakukan orang tua atau terapis untuk mengembangkan kemampuan verbal anak, antara lain:

PERMAINAN TIBA-TIBA
Permainan tiba-tiba merupakan permainan tidak terencana tapi mengasyikan, karena mengajari anak bicara dari apa yang menarik perhatiannya saat itu. Misalnya, anak tertarik pada kaleng bekas yang kebetulan tergeletak di lantai. Lantas anak mengambil, membuka dan menutup kaleng tersebut. Kesempatan ini dapat digunakan oleh orang tua atau terapis untuk mengajari konsep "buka" dan "tutup". Caranya, orang tua atau terapis menutup kaleng sambil mengatakan,"tutup". Lantas penutup kaleng tersebut diberikan kepada anak. Kemudian minta anak untuk mengikuti apa yang dilakukan sebelumnya. Atau, bisa juga menggunakan kaleng lain, agar orang tua atau terapis dan anak melakukan permainan ini secara bersamaan. Cara yang sama dilakukan juga untuk mengajari konsep,"buka." Bila anak bosan kita juga dapat ganti mengajari konsep lain, seperti "pelan" dan "berisik". Caranya, memukul kaleng perlahan dengan sendok, sambil berkata dengan nada suara pelan,"pelan!". Kemudian memukul kaleng sekencangnya sambil berteriak,"berisik!". Permainan dilakukan berulang dan dikembangkan dalam suasana yang menyenangkan. Anak akan lebih menikmati permainan bila kemudian orang tua atau terapis yang meniru tingkah anak dalam bermain.

Permainan tiba-tiba ini dapat dilakukan juga pada saat anak tertarik pada gambar kesukaannya, misalnya gambar gajah. Orang tua atau terapis bisa mengikuti tingkah anak menunjuk sambil menyebutkan nama "gajah" pada gambar yang ditunjuk. Bila anak tertawa dan senang tingkahnya diikuti oleh orang tua atau terapis secara berulang�ulang, hal ini akan memancing anak untuk meniru orang tua atau terapis tanpa disadarinya. Maka kesempatan ini dapat juga digunakan untuk mengajari anak menyebutkan nama binatang yang ada digambar selain gajah, seperti sapi, domba, kucing dan sebagainya. Selanjutnya, bisa juga dikembangkan menjadi dua kata, seperti "gajah abu-abu", "gajah India", atau..."susu sapi", �domba putih", dan seterusnya.

LOMBA MENAMAI BENDA
Permainan berikutnya adalah lomba menamai benda. Untuk mempraktekan cara ini, orang tua atau terapis membutuhkan gambar�gambar yang sudah dikenal dan akan dinamai. Misalkan, gambar topi, burung, sepatu, apel, gajah, dan sebagainya yang dapat dipotong dari majalah bekas. Tempelkan gambar pada karton berukur post card (gambar 2.1) agar kelihatan menarik, lalu tempelkan pada dinding kamar terapi atau ruang keluarga. Kemudian membuat lomba dengan instruksi yang sederhana pada anak. Misalkan, "lari, pegang gambar topi, lalu sebutkan "topi". Setelah instruksi diberikan, orang tua atau terapis lari bersama anak untuk memegang gambar topi sambil berteriak,"topi". Permainan ini dapat juga dikembangkan dengan menyebutkan dua kata, seperti, topi merah, topi baru, topi sekolah (bila memang itu gambar topi sekolah), dan sebagainya.

Permainan lomba menamai benda akan lebih menyenangkan bila mengajak saudara, teman, atau anak tetangga yang sebaya dengan anak. Tapi, sebaiknya permainan cukup melibatkan anak dengan dua pemain lainnya, agar anak lebih mudah meniru, dan tetap dapat mengikuti permainan dengan baik. Supaya permainan lomba menamai benda ini lebih menantang, maka gambar-gambar yang akan dinamai di tempelkan agak tinggi, agar anak harus melompat saat menyentuh gambar yang akan dinamai tersebut.


LAGU ATAU NYANYIAN
Lagu adalah cara menyenangkan untuk mengembangkan kemampuan verbal anak, karena umumnya anak-anak suka sekali bernyanyi. Melalui bernyanyi anak dapat belajar mengucapkan lirik lagu tersebut satu persatu.

Mengajari anak menyanyi dapat dimulai dari lagu pendek dan sederhana, yang tentunya sangat disukai oleh anak, misalkan "Topi Saya Bundar", "Kepala Pundak Lutut Kaki", "Balonku Ada Lima", atau "Aku Punya Anjing Kecil". Selain itu, lagu juga dapat memperkaya imajinasi anak, dimana lirik lagu tersebut diubah sesuai dengan karakter lagu. Misalkan, lagu Aku Punya Anjing Kecil dapat diganti liriknya menjadi

Aku Punya Kucing Kecil.
Aku punya kucing kecil
Kuberi nama Kitty
Dia pandai menari-nari
Sambil bernyanyi riang
Kitty, meong-meong
Kemari, meong-meong
Ayo nari-nari
Kitty, meong-meong
Kemari, meong-meong
Ayo nari-nari...

Disamping itu, anak akan merasa senang bila lagu tersebut dinyanyikan memakai gerakan yang sesuai dengan lirik lagu. Dan akan lebih menarik lagi bila nama anaknya disebutkan dalam lirik lagu tersebut.

MENONTON TELEVISI
Sebenarnya, nonton televisi dapat dijadikan sarana untuk mengajar anak berbicara dan komunikasi, asalkan orang tua atau terapis mau menyediakan waktu untuk nonton bersama. Hal pertama yang perlu dilakukan sebelum mengajari anak berbicara melalui nonton tivi, adalah mengetahui film apa yang menjadi kesukaan anak, seperti film Teletubbies, Donal Bebek, dan sebagainya. Kedua, mengetahui sejauh mana kemapuan anak dalam mengenal konsep, seperti warna, bentuk, jumlah, benda, dan sebagainya. Hal ini akan membantu saat meminta anak menceritakan apa yang ditonton pada orang tua atau terapis. Misalkan,�siapa sih yang naik skuter?"; "baju Lala warnanya apa sih?" dan sebagainya. Sebaiknya, jangan minta anak menceritakan sesuatu di dalam film yang tidak diketahuinya, seperti menyebutkan warna baju yang dipakai Lala sementara anak belum tahu tentang warna. Tetapi, sebaiknya diberitahu dulu apa yang sedang ditonton pada anak saat itu, lalu ditanyakan kembali pada kesempatan yang berbeda.

PERMAINAN BERPURA-PURA
Permainan berpura-pura atau Pretend Play merupakan salah satu cara lain untuk mengembangkan kemampuan verbal anak, melalui skenario pendek yang dibuat dari permainan yang dipilih, contohnya "Pura-pura jadi dokter". Orang tua atau terapis dapat membuat skenario pendek antara seorang dokter dengan pasiennya. Dimana orang tua atau terapis menjadi dokter dan anak menjadi pasien. Contoh sederhana dari skenario permainan "pura-pura jadi dokter".

Suasana: Dokter sedang duduk diruang kerjanya dengan alat dokternya yang ditaruh di atas meja. Disamping meja tergelatak sebuah tikar untuk digunakan pasien berbaring. Tiba-tiba terdegar ketukan di pintu.

Pasien: "Selamat pagi, dokter!"
Dokter: "Selamat pagi. Silakan duduk."
Pasien : (Duduk di hadapan dokter) "Dokter, perut saya saki nih..."

Dokter : "Coba saya periksa dulu perut kamu" (dokter membimbing pasien tidur di atas tikar yang disiapkan. Kemudian memeriksa suhu tubuh dan perut pasien yang sakit. Setelah diperiksa, dokter mengajak pasiennya duduk kembali.)

Dokter : "Wah, Ibu terkena diare nih. Saya akan memberikan obat untuk diminum."
Pasien : "Terima kasih, dokter."

Untuk membantu anak dalam bermain, dibutuhkan satu orang terapis untuk menjadi model bicara pada awalnya. Atau, sebelum permainan dilakukan, ajari anak menghapal dialog yang diminta. Bila anak sudah mengikuti permainan dengan baik, maka skenario dapat dikembangkan lebih panjang lagi. Disamping itu, anak juga dapat bertukar peran dalam kesempatan yang berbeda, dimana anak yang menjadi dokter dan terapis atau orang tua yang menjadi pasien.

Skenario lain untuk permainan berpura-pura adalah, pura-pura berkunjung ke rumah Oma, belanja di supermaket, merayakan ulang tahun bersama, dan sebagainya. Supaya suasana lebih menyenangkan dapat libatkan teman, saudara atau anggota keluarga lainnya.

***TAMAT***

(dikutip dari: Johanna Ririmasse, http://puterakembara.org/archives3/00000015.shtml)

Radiasi Nuklir Ternyata Lebih Ramah dibanding Radiasi Alam

Jika kita berasumsi secara bebas dengan sebuah pertanyaan; jumlah korban mana yang paling banyak diantara jumlah orang yang meninggal karena radiasi nuklir dengan orang yang meninggal karena merokok?. Seandainya anda pakar kesehatan, tentu anda akan menjawab secara meyakinkan bahwa orang yang meninggal karena merokok, lebih banyak jumlahnya. Dan itu fakta. Tetapi dikarenakan media-media informasi seperti TV, surat kabar, ataupun internet, lebih banyak menyuguhkan negatifnya nuklir, sehingga sering mempengaruhi opini publik.

Anda bayangkan saja, jika anda disuguhkan suatu berita tentang peristiwa Hiroshima dan Nagasaki ataupun peristiwa Tragedi Chernobyl yang merengut nyawa ribuan orang sekaligus. Tentu anda akan menyatakan nuklir sangat berbahaya dan berasumsi jumlah korban nukilr lebih banyak karena korbannya secara massal. Hal ini jauh berbeda dengan korban merokok, tentu kita tidak pernah mendengar adanya korban massal akibat keracunan asap rokok. Yang ada korban akibat merokok berjatuhan disekitar kita, yang terkadang tidak kita sadari. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diperkirakan 4,9 juta orang meninggal dunia tiap tahunnya. Umumnya vonis akhir secara kesehatan bagi korban merokok ini adalah karena mengidap penyakit kanker.

Deskripsi diatas adalah salah satu contoh bahwa radiasi alam lebih berbahaya dari radiasi nuklir? kok bisa? Sebenarnya tanpa disadari oleh para perokok, bahwa selama mereka merokok, mereka telah terpapar radiasi salah satu gas radioaktif alam yaitu gas radon yang terdapat dalam daun tembakau. Radioaktif alam ini berasal dari pupuk fospat (P) yang dipupukkan pada daun tembakau sehingga gas radon terakumulasi di dalam tembakau. Sehingga perokok akan mudah terkena kanker paru-paru karena radiasi dari gas radon tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru.

Secara umum gas radon ini lebih banyak terserap oleh para penambang bahan galian, karena pekerja tambang secara langsung menghirup gas radon secara berlebihan. Menurut perkiraan resiko kematian akibat gas radon mencapai 0,005%. Di Amerika Serikat misalnya dari sekitar 200 juta penduduknya diperkirakan ada 10-20 ribu orang meninggal karena menghirup gas radon.

Di Indonesia sendiri diketahui beberapa bahan bangunan seperti asbes dan gypsum yang banyak digunakan sebagai atap, semen, dan lain sebagainya mengandung bahan radioaktif. Di Swedia yang beriklim dingin sehingga rumah-rumah dibuat dari tembok yang tebal dengan ventilasi yang sedikit. Karena itu penumpukkan gas radon dalam rumah menjadi berlebih sehingga ada beberapa rumah yang mengandung unsur radiokatif alam seperti U238, Th232, dan K40 di atas batas kewajaran. Kadar gas radon dalam rumah tersebut mencapai 260 Bq/m3 udara, padahal kadar wajar di udara adalah 10 Bq/m3.

Selain radiasi gas radon, beberapa radiasi alam yang lain adalah radiasi kosmik dan sinar UV137, Co60, Xe, dan I131. Radiasi buatan ini mempunyai waktu paruh yang pendek dan zat radiokatif ini dapat dinyatakan habis jika telah 10 kali waktu paruhnya. Semisal waktu paruh dari I131 adalah 8 hari, jadi apabila terjadi kebocoran reaktor, maka reaksi yodium ini akan habis dalam waktu 80 hari. dari lampu neon. Bila dibandingkan dengan radiasi alam ini, bahaya radiasi nuklir jauh lebih kecil dari radiasi alam yang secara wajar kita terima. Hal ini dikarenakan intensitas kita terpapar oleh radiasi alam hampir setiap hari sedangkan radiasi nuklir hanya terjadi apabila terjadi kebocoran reaktor. Tetapi dengan kemajuan teknologi kemungkinan kebocoran itu sangat kecil karena telah dibuatnya keselamatan reaktor yang berlipat-lipat. Selain itu pula, radiasi nuklir buatan diuntungkan dengan waktu paruh dari sumber radiasi yang singkat, diantaranya Ce

Efek Radiasi

Efek radiasi secara umum bagi tubuh manusia dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu:

  1. Efek Stokastik

    Efek stokastik yaitu efek radiasi yang kemunculannya pada individu tidak bisa dipastikan dengan faktor 10-5 (dari 100.000 orang diperkirakan yang terkena hanya 1 orang). Efek dari radiasi ini dikatakan stokastik jika radiasi yang terserap oleh tubuh dalam dosis rendah yaitu 0,25-1.000 mSv. Misalnya saja pada alat diagnosa gondok, penerimaan radiasi rendah ini diperbolehkan bukan hanya karena aman namun justru menguntungkan.

  2. Efek Deterministik

    Efek deterministik yaitu efek radiasi yang pasti muncul bila jaringan tubuh terkena paparan radiasi pengionan. Efek determiristik dapat terjadi bila dosis radiasi yang diterima telah lebih dari ambang batas seharusnya yaitu dibawah 3.000 mSv. Bila radiasi yang diterima diantara 3.000-6.000 mSv maka akan menyebabkan kulit memerah atau kerontokan rambut. 6.000-12.000 mSv akan menyebabkan perasaan mual, nafsu makan berkurang, lesu, lemah, demam, keringat yang berlebihan hingga menyebabkan shock yang beberapa saat akan timbul keluhan yang lebih parah yaitu nyeri perut, rambut rontok, bahkan kematian.

    Tetapi kemungkinan efek deterministik ini sangat kecil mengenai kita, dikarenakan berdasarkan survei lembaga penelitian yang menangani nuklir, radiasi nuklir hanya sebesar 0.08 mSv.

Untuk pekerja di reaktor nuklir untuk menangai efek radiasi ini agar tidak sampai ke tubuh individu, terdapat tiga dasar proteksi radiasi (keselamatan radiasi). Yaitu pengaturan waktu kerja dengan radiasi, pengaturan jarak dengan sumber radiasi, dan penggunaan bahan pelindung radiasi. Semakin pendek waktu yang digunakan untuk berada di medan radiasi, semakin jauh dari radiasi dan semakin tebal bahan pelindung, akan memperkecil dosis radiasi yang diterima.

Penutup

Dari penjelasan di atas, dapatlah kita ketahui bahwa nuklir bukanlah momok yang mengerikan bagi kita. Berbagai hal yang kita takutkan ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Bahkan dapat dikatakan bahwa teknologi nuklir adalah teknologi ramah lingkungan dan berbagai manfaat dapat kita peroleh dari nuklir ini. Di sini pemerintah dan masyarakat harus mencoba untuk memahami nuklir secara lebih lagi. Karena boleh jadi, perbedaan persepsi dan pertentangan opini tentang pengembangan nuklir di Indonesia, yang selama ini terjadi, boleh jadi dikarenakan karena kita tidak tahu dan terlalu trauma dengan tragedi nuklir masa lalu.

(dikutip dari: Sinly Evan Putra, http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=203)